Seharusnya sebuah rela berakhir pada lega. Tahunan pernah kusebut-sebut rela adalah pemenggal sebuah rasa, tapi tahunan juga rasa masih terasa kekal menyimpan sesak dalam rongga dada. Rela bukanlah bagian hati yang masih menyembuhkan diri. Mereka hanya sebatas kata yang masih mencoba. Penyembuhan hati tak mungkin usai dalam sehari. Rela pun tak bisa lahir secara mahir saat kau memaksanya. Tapi kadang, melepas pergi demi bahagia yang tanpa mengikutsertakan diri juga bagian dari rela. Rela melihatnya bahagia tanpa kita ada dalam prioritasnya. Rela melihatnya pergi dengan dunianya sendiri. Kolaborasi hati dan kepala lebih tahu soal takaran rela yang kau punya.
Jika dulu kusebut soal rela, sebagian dari hati masih tak percaya dan sebagian lagi menyangkali. Jika dulu kusebut soal rela, mungkin tak sepenuhnya pura-pura karena aku sedang mencoba. Dan jika dulu kusebut soal rela, itu adalah bagian dari usaha untuk memperbaiki hati dan menjauh dari semunya janji-janji. Tapi kini, rela menurutku adalah perasaan transparan tanpa tengokan kebelakang dan mengharapkan imbalan. Rela adalah lega yang begitu sempurna. Tidak ada sakit yang menghimpit, tidak ada lagi hati yang terjepit.
Aku rela. Rela dengan semua usaha yang mungkin menurut mata tampak sia-sia. Rela dengan segala kepergian tanpa pernah sempat berpelukan. Rela dengan segala kehilangan tanpa pernah sempat memiliki. Aku rela tanpa harus berkali-kali membuat semesta percaya akan makna katanya. Karena rela adalah sebuah pengungkap rasa, bukan sekedar kata. Setidaknya, pilu tak pernah menghantuiku saat melihat potret dengan perempuanmu. Setidaknya rela adalah anak tangga untuk maju tanpa ditemani luka.
tapi mana bisa, kau tidak pernah anggap aku ada
Sudah cukup lari-lariannya. Akhirnya aku tahu, sehebat apa pelari pasti punya titik terlelahnya sendiri. Inilah yang kusebut titik henti.

Karena satu titik, jari ini pun menjentik. Aku terganggu. Aku berharap saat fantasiku bermanja, kau benar hadir disana.
Aku pergi sayang. Aku pun tak ingin berjanji kembali. Karena kepergianku bukan semata untuk melarikan diri, tapi untuk menyembuhkan hati. Bukan kebodohan jika dari semula hati tak bisa mendeteksi kecewa yang nantinya akan berformula. Aku payah. Hati terlalu semberono menaruh karpet merah sebagai penyambutan istimewa bagi kamu di waktu yang salah. Jika saja ada satu kata yang keluar dari mulutmu untuk menahanku pergi, aku pasti luluh dan batal tereliminasi. Tapi sayangnya tidak. Sepenting apa aku hingga bisa membuatmu menahanku?
Tepat disana, tepat di tempat yang tak mampu kugapai. Seluruh kenangan merangkak dan berkumpul mengganggu benak. Aku menyilangkan tangan memberi tanda sebuah penyelesaian. Ini bukan sesuatu yang mudah. Kakiku beranjak pergi, sementara kepala ini enggan menghapusmu dari memori. Ini bukan sesuatu yang mudah, tapi aku akan tetap melangkah. Aku pasti akan sangat rindu. Saat aku menunjuk titik itu, kosong akan menjadi pusatnya. Tidak ada lagi kamu, hanya ada sekumpulan rindu. Sebentar lagi jarak resmi menjauhkan, dan sebelum hati disembuhkan aku akan selalu merindukan.